Senin, 23 Januari 2012

Keinginan vs Kebutuhan

Alkisah saya –sangat- sering berkeluh kesah, tentang bagaimana saya begitu sibuk mengurus dua balita tanpa dibantu pengasuh. Sampai-sampai saya tidak punya waktu untuk bekerja (ke kantor lagi), apalagi ke salon! Like it's matter. Padahal dulu waktu ada 'Mbak terpercaya aja saya sangat jarang keluar rumah untuk ke salon.

Memang seperti jadi kebiasaan buruk saya, untuk menginginkan yang saya tidak bisa dapatkan, so bad, tapi begitu ada kesempatan, ajaib, saya tidak terlalu menginginkannya lagi.

Dulu, waktu belum punya mesin jahit (ceile mesin jahit lagi neng), saya selalu ngimpi dan ngebet pingin bisa bikin sarung bantal sendiri, pouch sendiri, sampai baju sendiri. Setelah punya? Ya, tahulah dari cerita-cerita sebelumnya gimana nasib si mesin jahit itu.

Dulu lagi, jaman kuliah saya kan nge-kos, dan komputer hanya bisa diakses di kantor (kantor pribadi). Maka saya ngidam pengen punya lap top. Kan enak tuh, bisa ngerjain tugas kuliah, dan terutama buat ngerjain thesis saya di kos-kos-an. Tapi begitu saya punya, yaa.. kebanyakan laptopnya dipakai buat main puzzle buble.

Jadi, ke salon, dan lain-lainnya itu memang sebatas keinginan saya, sedangkan saya, tidak (terlalu) membutuhkannya. Oh, so many things then, yang harus saya sortir dalam daftar kebutuhan dan keinginan.

Hidup ini nggak boleh mubazir, termasuk dengan kesempatan dan barang-barang yang saya punya. Saya nggak pengen di-hisab terlalu lama, gara-gara karuniaNya terus terdepresiasi tanpa ada manfaatnya.

Tabik!




Kamis, 19 Januari 2012

Resep Abal-abal

Pernahkah teman-teman nyobain resep dari majalah/ tabloid/ media2 tapi nggak jadi? Ceritanya, sebulan yang lalu saya salah beli 'coklat putih' instead of coklat blok yg biasa saya beli untuk buatin anak-anak brownies. Tu white cooking chocolate nganggur di lemari dapur tanpa saya tahu mau dibuat apa sampai, saya nemu resep yang saya rasa pas.. di salah satu tabloid kenamaan lokal. Saya sebut pas karena bahan-bahannya sederhana sekali, dan semua ada di dapur saya.

Sebenernya tadinya saya nggak yakin sama resep itu, karena tabloid ini saya dapati kadang memuat berita artis seolah melakukan wawancara sendiri. Padahal menurut hemat saya sih hasil 'terinspirasi' dari berita di tabloid nasional atau
infotainment. Kalimat-kalimatnya itu loh, nyaris sama. Ngga ada hubungannya memang sama resep, tapi saya pikir kalau untuk berita saja nggak sempat melakukan wawancara sendiri, kapan para awak redaksinya sempat melakukan uji coba resep sendiri? Tetapi resep ini ternyata resep dari seseorang yang konon sudah punya bakery. Lengkap dengan fotonya, dan alamat bakery. So.. masa sih, resepnya abal-abal?

Singkat cerita, saya sebenernya sudah curiga karena prosesnya kok tidak 'standar' seperti lazimnya resep kue. Bukannya sok tahu, belakangan saya cukup rajin nyobain resep-resep terutama kue. Udah gitu hasil
step-by-step-nya juga nggak seperti apa yang dituliskan. Dan, meskipun pada 30 menit pertama saya sempat gembira karena dari oven tercium bau harum, akhirnya mesti menerima kenyataan bahwa tu kue masih liquid meski sudah di oven selama 1,5 jam.

Saya ngomel, ini sih beneran kurang terigu, kebanyakan margarin, dst. Karena nggak mau rugi, kue itu berusaha saya selamatkan. Saya buang kelebihan margarinnya (yang membuatnya seperti sedang memasak telur dadar), saya kecilin api oven, saya tambah waktu memanggangnya, hingga 2,5 jam.

Akhirnya beberapa potong sempat masuk ke mulut anak saya. Pakai embel-embel, "Enak, Bu!" Saya cobain, lumayan juga sih sebetulnya, tapi ternyata kue itu tak sampai siang hari semakin bantat dan bantat. Ya wis saya buang aja. Termasuk lembaran tabloid berisi resep itu.

So, pesan moral dari cerita ini adalah: dapatkan resep dari sumber-sumber yang sudah terpercaya ya.
Happy baking.

Rabu, 18 Januari 2012

Jauuuh hari setelahnya

I'm ironic..

Ngaku deh saya, kalau saya ini suka gampang sekali bosan (atau menyerah) dengan hal-hal yang tadinya saya bilang akan saya lakukan..

termasuk tema postingan yang kemarin-kemarin itu..
Sekedar biar nyambung aja, tuh mesin jahit sudah setahun jadi penghuni lemari bawah tivi.

Hasil karya juga cuma nambah dua celana tidur buat anak-anak, dan gamis tak berkerah tak berlengan..
Ternyata menjahit baju itu.... sulit dilakukan.. (karena sy belum bisa)
Belum lagi bikin pola.. kayaknya saya butuh pengajar..
Niatan untuk les jahit? Uh, jauuh dari kenyataan..

Sudah ya, malu-maluin ngomongin soal jahit-menjahit ini, meski alasan ini yang membikin saya nge-blog dengan tema 'pekerjaan ibu'
entah apa maksudnya waktu itu.. kayaknya saya terinspirasi dengan blog-blog penjahit online dan bermimpi, someday I'll be one of them
maksudnya menjadikan 'menjahit' salah satu 'pekerjaan' saya.. --ngimpii-

Jujur, saya masih sangaat suka ngintipin blog-blog mereka, sambil iri setengah mati.
Tapi, (nah, saya selalu menemukan alasan).. .saya kan sedang sibuk dengan dua anak balita..
Tanpa ART pula.. -siapa suruh-

Nah, sepertinya sindrom menjahit ini hanya menjadi salah satu chapter dalam hidup saya...
sekarang saya stuck dengan mesin jahit (yang keren) di dalam lemari, sekardus gede bahan kain yang saya beli dengan semangat akan dibikin ini itu, dan selaci penuh kancing-kancing, resleting, benang, dkk. Nggak ketinggalan setumpuk buku tentang menjahit, dan berpuluh MB file-file tutorial hasil download-an tentang pola-pola dan tips menjahit. Kapan yaaa... menjahit lagi..

Maybe I should stop trying to do something that wasn't my thing.. .
Or.. try to be persistent on what I'm good doing..
which is...

tadaa...

(apa-ya)





Rabu, 21 Juli 2010

Almost a month

Setelah hampir sebulan, hasil karyaku adalah:
1. Sebuah Kantong yang tadinya dimaksudkan berbentuk guling berisi peralatan salat untuk diletakkan di mobil yang dapat sekaligus berfungsi sebagai penahan punggung.
kenyataannya jadinya malah seperti bantal
2. Sebuah dompet buku tabungan (nggak sengaja ukurannya pas) dengan aksen kancing batok kelapa (nemu di bawah lemari). Perlu 5 kali mendedel waktu bikin lubang kancing..
3. Sebuah sarung bantal dengan aksen pita (Langsung jadi, tapi ukurannya kegedean)
4. Sebuah kantong (lagi-lagi) yang tadinya diniatkan sebagai tas kecil untuk dompet dan hp, tapi sepertinya kurang wearable..

well.. lambat nian

Selasa, 29 Juni 2010

Now what?

Now what?
Tanpa direncanakan seperti yang sudah-sudah, terbeli-lah sebuah mesin jahit "J".
Buah iseng-iseng melewati toko yang selama ini tutup.
Belok kiri di ujung jalan, melirik ke kanan, loh? Ternyata tokonya buka. Parkir bang!

Agak deg-deg-an kulangkahkan kaki untuk kedua kalinya ke toko itu.
Niat di dalam hati, cuma mau lihat-lihat dan nanya-nanya, belinya masih kapan-kapan.
Tapi kenyataan berkata lain.

Si "J" yang ada di samping monitor komputer sekarang ini adalah mesin jahit yang kulihat di menit kelima aku masuk ke toko si Om.

Don't know why, I just like it the first time I saw it.
It has brown and pink colors. Don't like any other machines that usually colored blue.
Terlihat gagah, dan sepertinya kuat.. ditambahi quotes: "Bisa dipakai sampai anak cucu," oleh pak Ahmad, sang mekanik dan calon trainer mesin jahit-ku ini.
Hampir tak kupedulikan suara si Om menyebutkan harga "J" yang melebihi bugetku. Potongan harga pun kuminta sembari bicara sepintas lalu saja.

Lima menit berikutnya aku sudah duduk di sudut toko mencoba si J dengan wajah yang kusetel biasa, meski sepertinya tampak "too excited" di mata si Om yang berbinar.
Seriously, itu pertama kalinya aku menjahit dengan mesin jahit - di dunia ini -
Ada sensasi..

Lima puluh menit berikutnya, aku sudah dalam perjalanan pulang dengan J terbungkus dalam kotak karton di jok belakang.
Senyum-senyum sendiri, meski tabungan berkurang seperempatnya.

Sesampainya di rumah, serta merta kuganti status JS ku dengan quotes: "Penantian 10 tahun lebih"
Aku menunggu "menyentuh" J hingga selesai kupindahkan meja komputerku dan ku atur sedemikain rupa. Semua untuk menyediakan tempat yang layak bagi J.
Besok pagi, habis subuh, pikirku.
Sembari menunggu pagi, aku mengganti bacaan malamku dengan buku petunjuk, yang menurutku gampang dimengerti.

Dan pagi ini, sebelum anak-anak dimandikan, J sudah siap di atas meja "baru' nya.

Em... now what?

Minggu, 06 Juni 2010

Is it a thread or challenge?

Sudah tiga kali dalam dua hari
Pergi lewati toko mesin jahit
Sama dengan hari ini
Di dompet sudah bawa duit

Entah kenapa entah kenapa
Itu toko tak juga buka
Ku kira aku datang kepagian
Ku datang siang juga tak ada kegiatan

Padahal tekad di hati sudah bulat
Kain bakal jahitan pun sudah kudapat
Toko yang lain aku tak tahu
Berapa lama lagi aku mesti menunggu

Senin, 31 Mei 2010

Menjahit (lagi)

Well.. perlu waktu 9 bulan buat menulis entry kedua.
Masih topik yang sama, masih dalam kondisi yang sama (belum bisa menjahit).
Tapi status per-bulan ini sudah berubah: I am a mother with two sons

Dulu ceritanya lagi semangat beli mesin dan mau mulai kursus..
and then.. jeng-jeng... congratulations u're pregnant!
so.. hati langsung menciut, semangat memudar, wajah memucat.. (haiya)
kebayang segala kerepotan yang hampir terlampaui
kebayang segala kerepotan yang siap datang lagi..
trus kapan bisa ada waktu buat menjahit, bu?

tapi hari ini.. setelah beberapa hari ter-connect dengan cutimelahirkansindromdotkom
akhirnya memutuskan.
1. I'll join the course starting this weekend
2. I'll buy the sewing machine next weekend

barangsiapa menemukan saya tidak melakukan kedua hal tersebut..
silakan minta ditraktir