Jumat, 31 Oktober 2014

Jalan-jalan dan Hotel




Daripada blog ini suwung dan berhantu saya mau sharing cerita tentang kegiatan jalan-jalan. Kami memang hobi jalan-jalan. Dan buat kami acara menginap di hotel atau di tempat lain itu sebagai bagian dari pengalaman jalan-jalan yang juga menyenangkan. ‘Kami’ yang dimaksud adalah keluarga dengan dua anak kecil. 

Jaman saya masih kecil, saya cukup sering diajak menginap di hotel. Jadi rasanya hotel menjadi salah satu tempat ‘rekreasi’ yang menyenangkan buat saya, dan akhirnya ‘menurun’ pada anak-anak. Hehe. 

Kebetulan ‘pekerjaan’ juga cukup sering membuat kami harus keluar kota. Jadilah kesempatan menginap di hotel sebagai bagian dari acara. 

Hotel-hotel di jaman dulu harus dipesan via telepon langsung ke hotelnya. Kemudian perkembangan jaman, hotel bisa dipesan lewat biro travel lalu kita bayar sejumlah uang ke biro tersebut, dan kita akan dibekali voucher. Pada masa ini, kira-kira tahun 2000-an, voucher hotel dirasa lebih menguntungkan dibanding pesan langsung ke hotel. Harganya lebih murah bisa selisih hingga ratusan ribu. 

Masa-masa internet, pesan hotel tidak lagi langsung via hotel atau biro travel, melainkan via biro travel di dunia maya. Agoda. Com menjadi salah satu pioner pemesanan hotel ini. Dan menjadi salah satu situs yang paling sering saya gunakan. Selama ini saya belum pernah dapat masalah dengan voucher hotel yang saya beli via agoda. Ratenya hampir 80% lebih murah dibandingkan langsung pesan ke hotel. Meskipun beberapa hotel terutama yang berjaringan internasional sudah punya situs bookingnya sendiri, seringkali harga di agoda tetap jauh lebih murah. –nanti saya mau sharing tips untuk booking via agoda ini-- 

Pun-jika kita punya member card hotel tersebut. Ya gitu deh, jadinya pesan hotel langsung menjadi pilihan terakhir kalau di agoda tidak tersedia kamar lagi. 

Jadi ini adalah halaman pembuka tentang ‘petualangan hotel’ ini. Selanjutnya mengalir aja ya, sesuai ingatan saya. Hehe.

Jumat, 11 April 2014

Roti Meses Dilipet



Sore ini,...
 
Saya lagi di depan komputer.
“Aku mau roti misis dilipet!” jerit Ken II (3 tahun 11 bulan).
Belum saya sempat menjawab:
 “Sini aku buatin!” respon Ken I (6 tahun).
Lima menit, roti meses dilipet habis dimakan Ken II. Dan dia minta tambah.  -.-‘
Kali ini Ken I buatin lagi sambil rada menggerutu...

*Subhanallah…. 
*pelukciumanak-anakku

Resep roti Ken I
Roti tawar (tanpa kulit)
susu kental manis
meses (coklat) merk Ceres 
digulung/ dilipat

 

Kamis, 26 September 2013

Simple Donut ala Masterchef Australia



Ceritanya saya suka banget sama tayangan Masterchef Australia. Selain presenternya yang manusiawi, nggak sok-sok jadi “Simon Cowellnya” dunia masak, MCA juga nggak banyak “drama” jadi kita bisa lebih fokus sama acara masaknya. 

Terus, pagi ini, ingat dengan salah satu episode tentang Gary, salah satu juri MCA, yang membuat donat. Saya tonton ulang di You tube, dan menemukan resep aslinya di official web Masterchef Aus.
Semua bahannya ada di rumah, cara bikinnya simpel, less cluttered, jadilah di siang bolong yang panas saya bikin donat ini. 

Resepnya saya kurangi separuh dari resep aslinya. Karena sepertinya terlalu banyak buat dimakan bareng 2 anak kecil. Dan di resep asli dia pakai gula yang dikasih lavender. Yang ada di halaman saya cuma melati hehehe.  

Jadi ini dia resepnya:
1. 200 ml susu plain. Karena saya punyanya susu bubuk plain, ya udah saya pakai 3 sdm susu + 200ml air.
2. 50 gr butter. Saya pakai margarin brand biasa.  
3. 40 gr gula kastor. Saya pakai gula halus biasa.
4. 2 butir telur
5. 10 gr fresh yeast. Saya pakai ragi kering setengah bungkus.
6. 300 gr tepung (saya tambahin garam halus seujung sendok kecil)
7. Minyak buat menggoreng

Isian: bisa pakai selai yang disukai/ gula halus

Caranya:
1. Hangatkan susu sampai suam-suam kuku (suhu tubuh). Kalau kata Gary sih 37C. Saya nggak punya termometer masak. Jadi dikira-kira aja pakai ujung jari. Gunanya suhu hangat ini buat raginya supaya mudah bereaksi dengan adonan. Matikan api.
2. Masukkan (aduk pakai whisk) mentega dan gula. Terus masukkan dan aduk juga telurnya. (Jadi jangan sampai kepanasan ya, kalau enggak telurnya jadi telur orak-arik kan nggak lucu hehe)
3. Setelah adonan tercampur rata, baru masukkan raginya, aduk rata.
4. Siapkan tepung di wadah lain (yang agak besar) terus tuangi dengan adonan susu campur tadi. Aduk rata pakai whisk juga. Nah, sampai disini bagi yang terbiasa bikin donat mungkin akan heran, karena adonannya kok “encer”. Tapi memang adonan donat ini dibikin encer gitu supaya donatnya lebih “fluffy”, kata si Gary.
5. Tutup wadah, dan diamkan adonan di tempat hangat selama 45 menit. 
Tekstur adonan setelah 45 menit.
6. Setelah 45 menit, adonan akan mengembang. Siapkan minyak (agak banyak) untuk menggoreng.
7. Goreng adonan. Kalau Gary, adonan itu dibentuk2 pakai tangannya semacam bikin bakso gitu. Karena saya males berkotor-kotor, saya pakai sendok es krim buat menyendokkan adonan ke wajan.
8. Goreng kira-kira 2-3 menit. Jaga kompor di api sedang. Menurut Gary di suhu 168 C. Yeah, dapur kita nggak secanggih itu. Jadi dikira-kira aja supaya donat nggak gosong, sementara bagian dalamnya termasak sempurna. 

Inilah bentuknyaa.
Dalemnya begini.
Setelah masak, saya nggak punya selai, jadi cuma saya guling-guling ke gula halus. Bisa juga dikasih  meses, atau coklat cair. Rasanya ada rasa kayak olliebollen, tapi teksturnya lebih lembut. Agak-agak juga kayak bolang-baling. Yah.. mereka kan bersaudara, nggak heran rasanya mirip-mirip.

Jadi, kalau anak-anak rewel minta cemilan, bikin donat ini sangaat mudah.Waktu preparation cuma 10 menit. Waktu tunggu 45 menit. Waktu goreng 15 menit.

Cucian setelahnya cuma 1 panci buat menghangatkan susu, 1 mangkok adonan, wajan serta sendok dan whisk. Enteeeng.

Biayanya? Perkiraan saya: 
Tepung 3000, mentega 1250, Gula 2000, Telur 2500, Susu 2000, Ragi 500, Minyak 4000, Total: 15.250.
Jadinya cukup buat 20-25 donat seukuran bola pingpong. Murah kan? Daripada beli di toko donat, yang harganya 8000 sebiji. Hehe..

Kamis, 19 September 2013

Es Buah Kopdar



Jadi ini bukan sesuatu yang baru. Siapa aja bisa bikin. Cuma waktu itu ada rencana kopdar ibu-ibu dengan membawa pot luck. Mengingat kebiasaan pot luck itu berupa makanan atau kue-kue, saya kepikiran bikin minuman. Apalagi cuaca lagi panas banget. Dengan modal buah-buahan di kulkas + beli blewah, jadilah Es Buah Kopdar ini.

Bahan-bahan:
- Sirup gula (gula dilarutkan pakai air panas atau gula dimasak di air matang sampai larut) banyaknya sesuai selera.
- Sirup frambozen (optional)
- Es batu (yang banyak)
- Air dingin
- Air jeruk lemon/ jeruk nipis dari 1 buah jeruk.
- Buah sebetulnya pakai buah apa aja yang ada di rumah asal bukan duren hehe. Tapi biar cantik bisa dipilih buah yang warna-warni dan punya tekstur beda-beda.
1. Buah yang empuk dan manis: Melon/ Pepaya/ Blewah  (dibentuk bulat dengan alat atau dipotong kotak juga oke)
2. Buah yang krenyes-krenyes: Pir/ Apel  bisa juga bengkuang (dipotong kotak lalu kucuri air jeruk lemon/jeruk nipis supaya warnanya tidak berubah menjadi coklat. Air jeruk juga akan menambah rasa asem-asem seger gitu di es buahnya)
3. Buah yang asem, nambah seger: Strawberry/ daging jeruk mandarin (diiris kecil-kecil)

Caranya:
Campur jadi satu. Hehehe.

Tips:
Buah2an dipotong-potong dulu, lalu direndam air gula, masukkan tempat kedap udara, simpan di dalam kulkas. 
Sirup gula juga bisa dibuat dulu, simpan di kulkas.
Waktu mau dihidangkan tinggal dicampur-campur cantik ala ala chef di tivi gitu.

Maaf ya, nggak pakai foto, nggak sempet gitu deh.  Selamat membuat.

Rabu, 07 Maret 2012

Ibu-ibu 'Dilarang" Sakit

Siapa juga yang suka 'diijinin' sakit, yes?
Tetapi serius, mungkin karena musim hujan -nyalahin musim--
tiga bulan belakangan saya sering merasakan keluhan kesehatan yang rada serius.
Maksudnya sampai mewajibkan saya tidur-tiduran hampir sepanjang hari.. Kalau nggak mau ambruk.
well 'hampir' is the keyword

Keluhan-keluhan itu antara lain, sakit gigi, flu yang cukup berat, headache yang menyiksa..
sebenernya common problems lah.. Penyakit-penyakit 'rumahan'. Bukan penyakit serem dengan kata-kata tercetak miring .. Naudzubillah.. jangan sampai..
Penyakit-penyakit itu saya sebut rumahan, karena sebetulnya dengan memperbanyak asupan gizi dan istirahat, bisa diredakan dan disembuhkan.
Tapi pointnya adalah .. mana bisa saya istirahat dengan tenang.. Kalau rumah dan seisinya keleleran.

Dua anak balita laki-laki pasti masih butuh dimandikan, disuapi, dan diajak main 12 jam seharinya. Dan meski si ayah udah bisa mandi, makan, dan main sendiri, mana tega saya biarkan dia hanya makan dengan telur ceplok atau abon selama beberapa hari?

Belum lagi kerjaan rumah yang.. mm tambah menumpuk..

So.. meski suami dengan 'baiknya' berkata: "Udah istirahat aja.."
Tapi kenyataan kalau anak-anak, ayahnya, dan rumah 'nggak keurus' adalah kompensasi kalau saya 'istirahat aja', maka lebih baik saya 'tidak istrahat saja' meski sambil mengaduh dan mengeluh.

Kadang, kalau lagi waras, saya berusaha mengurangi keluh kesah itu dengan mengingat kalimat yang diutarakan om Pepeng di salah satu TV, ada perbedaan antara pain dan sickness.. Yang mesti kita kelola adalah painnya.. . supaya kita nggak sick..

Well, meski derajad sakit yang dimaksud om Pepeng jauuh bener sama 'sakit'nya saya, saya jadi rada-rada mikir kalau mau ngeluh. Malu, man!

Senin, 20 Februari 2012

Tas Belanja

Barusan baca status teman yang lagi nyari tas selempang yang biasa dia pakai untuk belanja, jadi ingat sesuatu.

Jaman dulu, kegiatan belanja ke pasar adalah kegiatan yang sangat menyenangkan buat saya, dan adik saya. Pasar -yang biasa kami datangi- itu adalah pasar terbesar di kota saya.
(Duh, someday saya akan ngomongin soal asyiknya belanja di pasar ini, tapi kali ini khusus ngomong soal tas belanja)

Dulu kala, kalau mama ngajakin saya sama adik saya belanja, pasti beliau membawa sebuah tas gede. Dari bahan plastik gitu, yang ada krawang-krawangnya. (Nggak nemu gambarnya di gugle)

Terus, para penjual di pasar itu, baik penjual bawang, cabe, sampai daging, akan membungkus belanjaan kami pakai daun. Daun pisang, daun jati,.. dan jarang yang pakai plastik.Untuk barang-barang kelontong (barang kering) juga akan langsung nyemplung ke tas belanja gede itu. Paling plastik dipakai untuk belanjaan macam ikan.. yang basah-basah.

Kalau model sekarang coba deh, apa-apa plastik, dikit-dikit plastik.

Saya sendiri juga, cuma belanja dari mbak keliling, yang notabene beli di teras rumah, dibungkus-lah tu cabe pakai plastik sama si mbaknya.

Dengan alasan kepraktisan, coba berapa dari kita semua -termasuk saya dong- yang rela bawa-bawa tas kalau pergi ke pasar?
Lumayan kan, buat mengurangi sampah plastik yang nggak perlu.
Lagi pula plastik cilik-cilik itu (ukuran 1/2 kilo sampe 1 kilo) kan nggak bisa juga kita pakai lagi.. Paling langsung kebuang..

Ini rada-rada ngomongin go green gitu deh.
Meski kadang saya juga seneng dapet plastiknya (terutama plastik ukuran tanggung dari swalayan itu) buat buang sampah rumah tangga.
..Kan.. tu plastik-plastik sekarang banyak yang berlabel 'biodegradable'?

hehehe..

Selasa, 07 Februari 2012

Inilah yang Menjadikan Perilaku Anak-anak

Menurut buku yang sedang saya baca,
(buku yang menarik buanget, meski belinya diskon abees)

Kita adalah produk dari kebiasaan-kebiasaan yang beresonansi terus-menerus dalam sel-sel otak kita.

Dan.. ngomongin otak nih, otak anak-anak mengandung sejumlah besar sel saraf tertentu yang disebut sel-sel saraf cermin --> yang melakukan apa sesuai namanya.

Sebagai anak, kita mengalami peristiwa, perilaku, dan emosi yang terjadi di lingkungan kita..

Jadi anak-anakku.. mereka akan melihat kebiasaan-kebiasaan saya, dan turn out, akan menjadi kebiasaan mereka juga.

Scary, eh?