Selasa, 03 Oktober 2017

Persiapan Khitan Anak Pertama

Berhubung ditanya sama mbak penulis konten keren Marita Ningtyas : http://www.maritaningtyas.com
dan Kakak sastrawan Temanggung tercintah Dini Rahmawati: http://www.dinirahmawati.com tentang yang pertama, angan-angan langsung melayang ke berbagai peristiwa romantis, tragis, dan mistis. Hehe. Tapi rasanya nggak akan bermanfaat kalau saya nulis panjang kali lebar tentang hal-hal yang cuma membangkitkan kenangan buat saya dan para pelaku di dalamnya (kalau kebetulan pada baca, sih).

Jadi, menyoal status sebagai ibu-ibu, maka saya memilih pengalaman ini untuk saya tuliskan, yaitu pengalaman mengkhitankan anak saya untuk pertama kalinya. Sebagai keterangan tambahan, anak saya (sementara ini) dua dan laki-laki semua. Dan rasanya kegelisahan para orang tua yang punya anak laki-laki, begitu anak-anak ini masuk SD, adalah soal khitan alias sunat.

Khitan Untuk Anak Laki-laki

Khitan adalah tuntunan bagi umat Islam. Manfaatnya sungguh banyak apalagi jika dikaitkan dengan kesehatan dan kebersihan tubuh. Dan buat saya, menunda-nunda khitan bagi anak-anak, rasanya sama saja dengan memperpanjang deg-degan saya sebagai orang tua. Di era kebebasan sosial media sekarang ini, cerita-cerita horor soal kegagalan khitan cukup mendebarkan saya.

Kira-kira satu setengah tahun sebelum mengkhitankan anak pertama, saya sudah mulai cari-cari informasi yang berkaitan. Mulai dari metode khitan yang digunakan, tempat khitan yang baik, sampai –tentu saja- biayanya berapa. Alhamdulillah tahun lalu si Mas sudah dikhitan.

Selepas melaluinya, saya ingin berbagi buat ibu-ibu lain yang masih harus mengkhitankan putra-putranya, kira-kira ini langkah-langkah yang saya lakukan. Dan akan saya lakukan lagi tentunya, meski mungkin nggak seribet yang pertama, buat si Adik. Hihi.

Langkah persiapan anak untuk dikhitan.

1. Cek Kesiapan Anak

Waktu si Mas memasuki umur delapan tahun, saya mulai sounding soal khitan ini. Cek ombak aja untuk mengetahui sejauh mana dia mengerti dan siap. Awalnya sih dia biasa aja, meski tahu kalau bagaimanapun dia kudu khitan. Kemudian beberapa temannya sudah mulai ada yang dikhitan, dan dia akhirnya menyatakan kalau juga sudah mau.

Saya sengaja tidak mengiming-imingi anak dengan hadiah yang akan didapat setelah khitan misalnya, atau memberikan janji surga kalau khitan itu tidak sakit. Karena nanti kalau dia punya harapan yang tidak sesuai kenyataan, akan membekas di hatinya sepanjang masa. Justru saya dalam hati ingin anak agak lebih cepat dikhitan dibandingkan sebagian besar teman-temannya supaya, semakin sedikit informasi/ cerita tentang khitan yang kadang serem-serem, tidak sampai di telinganya duluan. Hehehe.

Khitan tanpa dipaksa ini buat saya penting, karena kan nggak lucu, kalau di depan dokter/ petugas khitan, si anak meraung-raung atau malahan kabur.

2. Mengumpulkan Informasi tempat Khitan

Setiap saya melihat tampilan di sosmed tentang anak teman atau kenalan yang khitan, saya langsung kepo. Khitan di mana, berapa, prosesnya gimana, sakit nggak? Dan lain-lain. Selain itu saya juga buka-buka sosmed, lihat-lihat spanduk khitan yang biasanya bertebaran menjelang musim liburan, dan telepon beberapa tempat. Sempat tergoda membawa anak ke Bogem daerah di Yogyakarta yang terkenal sebagai tempat khitan. Tapi demi kepraktisan, akhirnya kami memutuskan mengkhitan anak saya di klinik dokter umum yang tidak jauh dari rumah, atas rekomendasi tetangga saya.

3. Memilih Metode Khitan

Langkah nomer tiga ini dilakukan bersamaan dengan langkah nomer dua. Zaman sekarang ini banyak metode khitan yang ditawarkan oleh berbagai tempat. Selain metode konvensional yang menggunakan benda tajam seperti pisau dan buluh bambu (aduh!), ada yang memakai pisau cauter (sering disebut laser padahal bukan), dan metode smart clamp yang katanya si anak bisa langsung pakai celana dan main bola. Di kampung halaman suami malahan ada rame khitan dengan metode hipnotis. Semua metode ada kelebihan dan kekurangannya. Monggo dipertimbangkan dengan seksama sesuai dengan kebutuhan.

Atas berbagai pertimbangan, termasuk nanya sama eyangnya, akhirnya saya memilih memakai metode yang biasa aja, entah itu pakai pisau biasa atau pisau lainnya.

4. Persiapan Dana

Beda cara, beda tempat, beda juga biayanya. Biarpun demikian rasanya memang perlu menyisihkan uang khusus untuk keperluan yang satu ini, karena biayanya yang “lumayan”. Biaya yang relate sama khitan juga tidak hanya biaya khitannya saja, tapi mungkin sejauh apa khitan anak akan “dirayakan”. Keluarga sudah memutuskan bahwa setelah khitan nggak akan disambung dengan perhelatan khusus. Tapi cukup membagikan nasi kotak untuk tetangga dan kerabat saja. Jadi kami siapkan juga dana untuk keperluan itu.

5. Menjelang Khitan

Karena proses penyembuhan khitan perlu beberapa hari, idealnya khitan dilakukan jika ada waktu libur sekolah. Kami memilih menjelang Idul Adha karena ada waktu libur sekitar lima hari. Rencana dikhitan di libur Idul Fitri kami batalkan karena kepikiran kasihan kalau si anak sedang ketemu saudara-saudaranya tapi nggak bisa bebas bermain karena habis khitan. Kami memilih waktu pagi sekitar jam 06.30 supaya seger. Hehe.




Celana untuk khitan. Sumber foto: internet
Persiapan kami:

a. Anak sudah sarapan secukupnya. Kalau bisa pagi sudah BAB, supaya deket-deket waktu setelah khitan nggak kepingin BAB sampai setidaknya luka agak kering.
b. Bawa bekal minum dan camilan buat yang nunggu.
c. Pengalih perhatian anak. Bisa mainan, atau buku.
d. Sarung, ini wajib buat habis khitan.
e. Celana khusus khitan yang ada cungkup macam bola dipotong (ini dapat dari dokter). Saran saya punya dua celana aja cukup. Cepat kering kok kalau dicuci. Dan celana ini dipakai kalau keluar rumah aja. Di rumah sih, nggak pakai celana. Hihi.
f. Salep obat. (buat di rumah)
g. Pembalut luka (buat di rumah)
h. Banyak doa

6. Proses Khitan

Dari awal saya nggak mau nungguin di dalam ruangan. Takut baper. Jadi si Mas ditemani ayah dan eyang kakungnya. Saya sudah menyiapkan beberapa video yang diunduh untuk ditonton lewat gawai. Ini buat pengalih perhatian. Konon anak hanya akan merasa sakit ketika disuntik obat bius, lalu selebihnya gawai diperlukan untuk mengalihkan perhatian dari proses khitan yang sebetulnya sudah “nggak sakit”. Jadi bisa aja bawa buku atau mainan, atau ngobrol sama yang menemani. Kalau khitan metode hipnotis ini katanya si anak akan diajak ngobrol sampe nggak kerasa kalau sudah dikhitan.

Proses khitan sampai selesai kira-kira 45 menit. Dari persiapan sampai selesai dijahit. Setelah itu bisa jalan dan pulang, dan sampai setengah jam berikutnya, si Mas aman dan enak-enak aja ikut sarapan. But then, dia akhirnya meringis juga. Sakit!

7. Sesudah Khitan

Jadi pak Dokter bilang kalau efek biusnya bisa sampai 4 jam. Nyatanya baru 45 menitan kemudian si Mas mulai merasakan nyeri. Dan si Mas ini sebetulnya cukup tahan sakit, tapi kalau sampai nangis, berarti sakitnya sudah lumayan mengganggu. Berbekal obat penahan nyeri dari dokter, dan ibunya yang komat-kamit doa sambil berusaha menguatkan si Mas, sekitar dua jam kemudian, si Mas bisa lumayan anteng.

Tipsnya buat suasana rumah nyaman buat anak yang habis dikhitan. Siapkan juga tontonan atau bacaan yang menarik buat anak. Di kamarnya bisa siapkan kipas angin, atau ruangan yang adem pakai AC, supaya anak nggak banyak keringat.

Oh iya, untuk makanannya sesudah khitan, usahakan yang banyak serat supaya BAB anak lancar jadi nggak harus “mengejan” terlalu kuat.

Yang tricky setelah khitan justru menjaga anak tak banyak bergerak. Bahkan dua hari sesudah khitan si Mas udah ikutan bapak ibunya naik turun bukit buat survey. Jadi sempat agak bengkak gitu. Aduh, Nak! Lukanya memang tidak boleh diapa-apain kata pak dokter. Yang harus dijaga adalah jangan terkena air.

Jadi kami siapkan tissue/ kain basah untuk anak setelah BAK dan BAB. Dan di beberapa hari pertama dilakukan dalam supervisi ayahnya. Hehe.

Beberapa hari kemudian kami ke dokter lagi untuk kontrol dan lepas perban. Setelahnya luka khitan justru nggak boleh diperban, cuma boleh dioles salep dan dibersihkan di sekelilingnya agar cepat kering.

Sekolahnya gimana? Waktu itu sempat dua harian si Mas ke sekolah dengan memakai “celana khitan”nya. Ini demi keamanan, karena namanya anak-anak kan bisa aja kesenggol teman-temannya.

Alhamdulillah sekitar 10 harian kemudian sudah bisa pakai celana biasa dan beraktivitas normal kembali.

Ibu-ibu, pengalaman pertama mengkhitankan anak ini buat saya bikin cukup deg-deg-an. Dan akan dievaluasi untuk perbaikan dan kelancaran proses mengkhitan anak kedua. Hihihi.

Semoga ada manfaatnya!


13 komentar:

  1. Waduh, aku jadi deg2an nih... nanti bakal ngalamin juga mengkhitankan si bujang kecil. Makasih ya mbak, Tipsnya oke banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya samaa aku juga deg-deg-an bangeet.

      Hapus
  2. Si sulungku dulu drama banget abis khitan. Semunggu gak kering2 akhirnya pas kontrol ketahuan mesti jahit ulang. Alasan dokternya krn sulung ada alergi dg antibiotik. Heran juga, krn selama ini gak pernah ada alergi. Tapi alhamdulillah anaknya kooperatif, gak ngeluh dan macaam2. Jadi aku juga gak kepikiran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuuh.. memang suka tak terduga gitu ya, Mbak Wati. Duh mbayangin jahit ulang.. Huhuhu

      Hapus
  3. Si Adek khitan klas 4 SD, drama pol, keukeuh surekeuh minta sunat begitu disuntik bius, nangis e jerit-jerit. Ambang sakitnya rendah 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi.. iya Mbak, masing-masing anak punya bawaan sendiri-sendiri. Tapi aku masih punya PR satu lagi nih, nggak tahu nanti si adik gimana hehe

      Hapus
  4. Buat bekal juga nih klo punya anak cowok...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe. Persiapan dari jauh-jauh hari, mbak Chel :)

      Hapus
  5. Tipsnya kushare adik dan kakak ipar yang punya anak cowok 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasii mba Vita. Semoga berguna tips ala-ala ini. Hihi

      Hapus
  6. Duh... kebayang kalau punya anak laki-laki, ikut dagdigdug.Makasih tipsnya Mba... moga aja dikasih rejeki anak cowok juga. aamiin..
    eh aku baru tahu ada celana khitan :P

    sekarang sih banyak yang mmeilih khitan anaknya saat masih bayi ya, katanya lebih cepat sembuh dan ga bikin anak trauma :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, sempat kepikir wah dulu kalau bayi langsung khitan praktis kali ya. Tapi kami tangguhkan karena berbagai pertimbangan. Semoga lancar nanti proses melahirkannya yaa..

      Hapus
  7. Jadi inget waktu Dio sunat. Komen dia waktu dibuka pembungkus lukanya dan dia liat hasil khitannya: Buk, kok jadi jelek??... *duh, geli geli gimanaa hehe

    BalasHapus